Powered By Blogger

12 Januari 2009

PRESIDEN 2009


Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Perkenalkanlah saya Ir. Doku Karta Diningrat Atma Jaya.

Pertama-tama mohon maaf atas Anehnya nama saya. Hal ini disebabkan karena partai saya sudah dua kali Pemilu tidak mampu melewati electoral threshold. Maka sesuai dengan UU Pemilu saya harus mengubah nama. Sesuai visi misi. Ini menunjukkan bahwa saya taat kepada hukum dan menjunjung tinggi hukum di atas segala-galanya.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Selalu menjadi ciri dari saya yaitu, bahwa saya tidak menawarkan janji, melainkan solusi. Oleh karena itu saudara-saudara, dengarkanlah solusi dari saya!

Bahwa setelah melalui kajian yang mendalam dari Dewan Pembina, perdebatan di Dewan Presidium, dan fatwa Majelis Syuro, saya menyimpulkan bahwa masalah pokok dari bangsa ini adalah “uang”.

Pejabat korupsi karena uang. Pendidikan mahal karena rektor, dosen, guru dan kepala sekolah membutuhkan uang. Kesehatan mahal karena dokter, perawat, apoteker dan pabrik obat butuh uang. Urbanisasipun terjadi karena kekurangan uang di daerah. Tingkat kriminalitas tinggi, pembunuhan, lomba menjadi artis, semua demi uang.

armie_qitSolusi yang ditawarkan para ahli hanya omong kosong belaka. Mereka menggunakan analisis-analisis yang rumit untuk mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi. Namun mereka tidak sampai kepada inti dari permasalahan, yaitu tidak meratanya distribusi uang.

armie_qitProgram utama saya jika Saudara-saudara mempercayai kami untuk memimpin negeri ini hanyalah satu, yaitu memperluas akses masyarakat terhadap uang.

Untuk itu kami akan membangun pabrik-pabrik uang di setiap provinsi. Distribusi uang dilakukan melalui Stasiun Pendistribusian Uang Rakyat (SPUR) yang tersebar di tempat-tempat strategis. SPUR berada di bawah koordinasi Depot Urusan Distribusi Uang Rakyat (DUDUR) yang berada di setiap kabupaten/kota. Secara nasional DUDUR akan dikoordinasi oleh Badan Urusan Distribusi Uang Nasional (BUDUN).

Untuk menjamin pasokan uang, kami akan membangun Tempat Besar Penampungan Uang (TBPU) di setiap pulau-pulau besar di Nusantara. Di Jawa Barat misalnya, akan dibebaskan lahan di 4 kecamatan untuk pembangunan TBPU. TPBU ini diperkirakan mampu menampung 18 milyar kilometer kubik uang, yang selain untuk distribusi wilayah Jawa Barat dan Banten, juga mensuplai kebutuhan uang di Jakarta sekitar 132 ribu meter kubik uang per hari.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Jika Saudara mempercayai saya untuk memerintah, saya akan memastikan bahwa setiap warga negara dapat memperoleh uang sebanyak yang dibutuhkan secara cuma-cuma. Saya akan menjamin setiap warga negara dapat mengambil uang di SPUR sebanyak yang mereka mau dan mampu. Tidak ada antrian panjang. Bagi warga yang tidak mampu mengambil sendiri di SPUR, kami akan kirimkan ke tempat masing-masing melalui paket pos. Dan jika kiriman tersebut tidak cukup, mereka dapat mengajukan penambahan kuota paket pos ke DUDUR.

Di sinilah Saudara-saudara, bukti kejeniusan saya!

Bahwa dengan demikian tingkat kriminalitas akan turun hingga titik NOL. Tidak ada lagi sopir angkot dan bus kota yang ugal-ugalan mengejar setoran. Tidak ada pekerja yang buru-buru di jalanan mengejar pendapatan. Semua berkarya semata-mata demi kepuasan hati.

Oleh karena itu Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, pilihlah saya dalam Pemilu nanti. Jangan menjadi golput. Suara Anda sangat penting bagi saya agar kami dapat mewujudkan program saya. Dan suara Anda sendiri tidaklah cukup. Ajaklah keluarga, kenalan, dan tetangga Anda untuk memilih kami. Karena hanya melalui kemenangan Pemilulah rencana saya dapat diwujudkan. Dan ketika hal tersebut terwujud, Anda jugalah yang menikmatinya. Dengan begitu, Anda telah menolong diri Anda sendiri, keluarga dan tetangga Anda. Selamat memilih saya!

11 Januari 2009

dekap dan putar

Paraulah suara burung itu
hilang kesuciannya
akan hari buruk ini
yang kau dengungkan
Teater luka dibaluti awan
o, sungguh indah
Awan merah membayang
Mata coklat yang kau sebar
Sempurna
Layaknya lanskap penuh bintang
dekap dan putar kaset itu
Bagai kehidupan kita
Jalanlah perlahan
menikmati indahnya purnama karam
sampai kaupun hilang
Hari masih buruk,
tapi kau akan menikmatinya.

Rinduku hujan

Ku sempatkan istirahat sejenak
bersandar melepas
lelah
mencoba menghemat nafas
yang sudah banyak terlepas

Lalu menatap ke langit lepas
mengurai tanya pada langit
yang berawan
yang mendung tipis
mencoba mencari
atau sekedar berharap
hujan turun hari ini

Lama sudah ku menanti
hujan tak turun kali ini
basahi kemarau di hati
alirkan kesejukan dalam diri
Aku butuh rintikan hujan hari ini
kuyupi aku saat ini
aku rindu hujan detik ini
basuh jiwa sempurnakan aku dalam sepi.

dekap dan putar

Paraulah suara burung itu
hilang kesuciannya
akan hari buruk ini
yang kau dengungkan
Teater luka dibaluti awan
o, sungguh indah
Awan merah membayang
Mata coklat yang kau sebar
Sempurna
Layaknya lanskap penuh bintang
dekap dan putar kaset itu
Bagai kehidupan kita
Jalanlah perlahan
menikmati indahnya purnama karam
sampai kaupun hilang
Hari masih buruk,
tapi kau akan menikmatinya.

REDEFINISI ARTI MAHASISWA

Berbicara tentang mahasiswa , hal pertama yang harus kita kritisi dan

pertanyakan kembali adalah ” benarkah kita ini Mahasiswa ? jika iya, dimanakah eksistensi kita sebagai seorang mahasiswa ? atau bahkan kita pun belum mengetahui arti dari mahasiswa itu sendiri ?”. Betapa naifnya kita, apabila tidak mengenal diri kita sendiri.

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab VI bagian ke empat pasal 19 bahwasanya “ mahasiswa ” itu sebenarnya hanya sebutan akademis untuk siswa/ murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya. Sedangkan secara harfiyah, “ mahasiswa ” terdiri dari dua kata, yaitu ” Maha ” yang berarti tinggi dan ” Siswa ” yang berarti subyek pembelajar ( menurut Bobbi de porter ), jadi dari segi bahasa “ mahasiswa ” diartikan sebagai pelajar yang tinggi atau seseorang yang belajar di perguruan tinggi/ universitas.

Namun jika kita memaknai “ mahasiswa ” sebagai subyek pembelajar saja, amatlah sempit pemikiran kita, sebab meski ia ( baca : Mahasiswa ) diikat oleh suatu definisi study, akan tetapi mengalami perluasan makna mengenai eksistensi dan peran yang dimainkan dirinya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, “ mahasiswa ” tidak lagi diartikan hanya sebatas subyek pembelajar ( study ), akan tetapi ikut mengisi definisi learning. Mahasiswa adalah seorang pembelajar yang tidak hanya duduk di bangku kuliah kemudian mendengarkan tausiyah dosen, lalu setelah itu pulang dan menghapal di rumah untuk menghadapi ujian tengah semester atau Ujian Akhir semester. “ mahasiswa ” dituntut untuk menjadi seorang ikon-ikon pembaharu dan pelopor-pelopor perjuangan yang respect dan tanggap terhadap isu-isu sosial serta permasalahan umat dan bangsa.

Apabila kita flash back melihat sejarah, peran mahasiswa acapkali mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari penjajahan hingga kini masa reformasi. “ mahasiswa ” bukan hanya menggendong tas yang berisi buku, tapi mahasiswa turut angkat senjata demi kedaulatan bangsa Indonesia. Dan telah menjadi rahasia umum, bahwasanya mahasiswa lah yang menjadi pelopor restrukturisasi tampuk kepemimpinan NKRI pada saat reformasi 1998. Peran yang diberikan mahasiswa begitu dahsyat, sehingga sendi-sendi bangsa yang telah rapuh, tidak lagi bisa ditutup-tutupi oleh rezim dengan status quonya, tetapi bisa dibongkar dan dihancurkan oleh Mahasiswa.

Mencermati alunan sejarah bangsa Indonesia, hingga kini tidak terlepas dari peran mahasiswa, oleh karena itu ” mahasiswa ” dapat dikategorikan sebagai ” Agent of social change ” ( Istilah August comte dalam pengantar sosiologi ) yaitu perubah dan pelopor ke arah perbaikan suatu bangsa.

Kendatipun demikian, paradigma semacam ini belumlah menjadi kesepakatan bersama antar mahasiswa ( Plat form ), sebab masih ada sebagian madzhab mahasiswa yang apriori ( cuek ) terhadap eksistensi dirinya sebagai seorang mahasiswa , bahkan ia tak mau tahu menahu tentang keadaan sekitar lingkungan masyarakat ataupun sekitar lingkungan kampusnya sendiri. Yang terpenting buat mereka adalah duduk dibangku kuliah menjadi kambing conge dosen , lantas pulang duluan ke rumah, titik.

Inikah ” mahasiswa ” ? Padahal, mahasiswa adalah sosok yang semestinya kritis, logis, berkemauan tinggi , respect dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa, mau bekerja keras, belajar terus menerus, mempunyai nyali ( keberanian yang tinggi ) untuk menyatakan kebenaran, aplikatif di lingkungan masyarakat serta spiritualis dan konsisten dalam mengaktualisasikan nilai-nilai ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan Konsep itulah, mahasiswa semestinya bergerak dan menyadari dirinya akan eksistensi ke-mahahasiswaan nya itu. Belajar tidaklah hanya sebatas mengejar gelar akademis atau nilai indeks prestasi ( IP ) yang tinggi dan mendapat penghargaan cumlaude, lebih dari itu mahasiswa harus bergerak bersama rakyat dan pemerintah untuk membangun bangsa, atau paling tidak dalam lingkup yang paling mikro, ada suatu kemauan untuk mengembangkan civitas / perguruan tinggi dimana ia kuliah. Misalnya dengan ikut serta / aktif di Organisasi Mahasiswa, baik itu Organisasi intra kampus ( BEM dan UKM ) ataupun Organisasi Ekstra kampus, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan lain yang mengarah pada pembangunan bangsa.

Oleh karena itu, Dengan semangat Muharramisasi mari kita sama - sama memaknai even tahun baru 1430 Hijriyah ini dengan senatiasa menginsafi dan selalu berintrospeksi diri kita sebagai seorang ” mahasiswa ”, juga kita jadikan sebagai moment untuk ” hijrah ”, yaitu hijrah dari kemalasan menuju kerja keras, hijrah dari sikap pesimis menuju sikap optimis, berani keluar dari kenyamanan untuk mendaki dan menempuh kesulitan, respect dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa , sehingga endingnya kita layak dan pantas untuk disebut sebagai seorang ” mahasiswa ”.

Wallahu A’lam bis-shawab