Powered By Blogger

22 Februari 2009

RESENSI BUKU


THE GREAT DISRUPTION
( Hakikat Manusia dan Rekonstruksi Tatanan Sosial )
Pengarang : Francis Fukuyama
Free Press, Juli 2000
Paperback, 510 Halaman
ISBN: 979-9440-23-8
CV. QALAM
www.Qalam-online.com


Tentang Pengarang
Francis Fukuyama Amerika adalah salah satu yang paling astute dan pemikir asli, dan buku telah membuka perspektif baru pada mengubah dunia di sekitar kita. Di Akhir Sejarah dan Manusia Terakhir, dia adalah yang pertama yang muncul sekilas bentuk pasca Perang Dingin dunia. Dalam Percaya, ia menganalisis faktor-faktor sosial yang menciptakan kemakmuran dan dieksplorasi bagaimana mereka dapat harnessed. Sekarang, di provokatif dan paling besar pengaruhnya buku, Fukuyama ternyata dia perhatian lebih ke pertanyaan mendasar mengenai sifat masyarakat modern.
Great gangguan diawali oleh mengamati bahwa selama tiga puluh tahun, Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya telah mengalami transformasi yang besar dari industri ke informasi masyarakat; pengetahuan telah diganti massa produksi sebagai dasar dari kekayaan, kuasa, dan interaksi sosial. Pada saat yang sama, masyarakat Barat telah tertahan meningkatkan tingkat kejahatan, perubahan besar-besaran dalam struktur dan keluarga kesuburan, menurunnya tingkat kepercayaan, dan kejayaan masyarakat atas individualisme. Sama seperti Revolusi Industri tentang sungguh-sungguh membawa perubahan dalam masyarakat dari nilai-nilai moral, yang mirip Great gangguan pada waktu kita sendiri telah menyebabkan perubahan besar dalam struktur sosial.
Menggambar pada data terbaru sosiologis dan teori model baru dari bidang yang sangat berbeda seperti ekonomi dan biologi, Fukuyama menyatakan bahwa meskipun yang lama telah rusak selain pesanan, baru urutan sosial sudah mengambil bentuk. Bagian dari sifat manusia, dia menunjukkan, adalah kenyataan bahwa kita semua biologis wired keras untuk meniru obligasi dengan satu sama lain, menciptakan kohesi sosial dalam bentuk-bentuk baru dan adaptif, tidak hanya di lingkungannya tapi juga dalam organisasi bisnis dan struktur keluarga.
The Great Disruption ( Pergeseran besar ) disebut oleh francis fukuyama pada suatu masa yang terjadi beberapa dekade terakhir khusunya di Amerika serikat dan negara-negara ekonomi maju lainnya, dimana pada saat itu telah terjadi pergeseran besar terutama dalam struktur sosialnya, seperti halnya dengan meningkatnya tingkat kriminalitas ( baik itu pencurian maupun pembunuhan ), menipisnya kepercayaan masyarakat ( baik terhadap sesama individu maupun lembaga-lembaga negara ), meningkatnya angka perceraian dan wanita hamil diluar nikah, kemudian salah satu yang paling menonjol adalah meningkatnya sikap individualisme dikalangan masyarakat.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa individualisme yang berlebihan akan membuat kita semakin picik dan tidak menghargai orang lain. oleh karena itu, yang harus ditegaskan adalah bahwa nilai-nilai moral dan aturan-aturan sosial bukan merupakan kendala yang semena-mena terhadap pilihan individual. Tetapi, aturan nilai-nilai itu merupaka prasyarat untuk setiap jenis upaya kooperatif. Persoalan kedua menyangkut budaya individualisme yang intens adalah bahwa ia akan berakhir dengan menghilangnya komunitas.
Persoalan-persoalan diatas dianalisis oleh francis fukuyama dari berbagai persfektif/ sudut pandang , baik itu dari segi historis, sosiologis, antropologis, neurobiologis, ekonomi, dan bahkan politik. Dengan menggunakan analisis moral, sosial, dan ekonomi, penulis menawarkan atau menyuguhkan hal-hal baru yang berkaitan dengan norma-norma moral dan aturan-aturan hukum dalam masyarakat, dalam kaitannya dengan persoalan kerjasama, kriminalitas, angka perceraian, kekerasan terhadap anak, peran perempuan, kepercayaan, dan social capital.
Secara sederhana social capital dapat diartikan sebagai serangkaian nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka. Norma-norma yang menghasilkan social capital harus secara substantif memasukan nilai-nilai seperti kejujuran, pemenuhan tugas, dan kesediaan untuk saling menolong dan komitmen bersama. Mangkirnya social capital bisa dilihat melalui ukuran-ukuran tradisional mengenai penyimpangan sosial, seperti tingkat kejahatan, kehancuran keluarga, penggunaan obat-obat terlarang, pelanggaran hukum, bunuh diri, dan penghindaran pajak.
Menurut francis fukuyama, beliau menyatakan bahwa meskipun tatanan lama telah hancur, saat ini sebuah upaya untuk merumuskan kembali sifat dasar manusia dan tatanan sosial baru telah berlangsung. Endingnya, “ The great Disruption “ pada akhirnya menempa sebuah model baru menuju keniscayaan “ The great Reconstruction “.
Secara umum, paling tidak ada empat alasan mengapa fenomena yang diasosiasikan dengan great disruption dapat terjadi :
 ( Pertama ) Fenomena itu dimunculkan oleh kemiskinan yang meningkat dan/ atau kesenjangan penghasilan.
 ( Kedua ) Sebaliknya dari point pertama, bahwasanya fenomena tersebut disebabkan oleh kekayaan yang meningkat.
 ( Ketiga ) great disruption merupakan produk yang muncul dari negara kesejahteraan modern/ modern welfare state.
 ( Keempat ) fenomena tersebut muncul akibat dari ingsutan kultural yang luas yang memasukan kemerosotan agama dan meningkatnya swa kepuasan individualistik diatas kewajiban komunal.
Menurut francis fukuyama, beliau menyatakan bahwa meskipun fenomena disruption saat ini telah menghancurakan tatanan sosial lama, akan tetapi fenomena great disruption tidaklah mempresentasikan akhir dari sebuah kemerosotan moraljangka panjang yang dibuat penting oleh kebangkitan pencerahan, humanisme sekular, atau sumber-sumber sejarah mendalam lainnya. Sementara penekanan kultural atas individualisme secara mendalam berakar pada tradisi itu, Great Disruption memiliki sebab-sebab yang lebih dekat seperti ingsutan dari ekonomi industrial menuju ekonomo pasca industrial dan perubahan-perubahan di pasar tenaga kerja yang memungkinkan hal ini. Uapaya-upaya untuk menormalkan kembali masyarakat masyarakat inggris dan Amerika dari tahun 1830-an dan seterusnya pada era victorian memperoleh keberhasilan monumental.
Bukti semakin banyak bahwa great disruption telah menjalankan tugasnya sendiri adalah bahwa proses penormalan kembali telah dimulai, hal ini dapat terlihat dari menurunnya tingkat kriminalitas, kasus perceraian dan hidup bersama diluar nikah pun semakin berkurang, dan tingkat-tingkat kepercayan terhadap institusi dan individu juga mengalami pemulihan secara signifikan dari awal hingga akhir tahun 1990-an, kepercayaan melambat secara substansial dan bahkan berbalik pada tahun 1990-an dibanyak negara, yang sebelumnya telah mengalami ledakan kekacauan.
Banyak tanda-tanda lain yang menyatakan bahwa secara kultural, periode individualisme yang terus berkembang sudah hampir sampai pada akhir, dan setidaknya bahwa sebagian norma yang telah lama hilang selama periode great disruption mulai kembali dipulihkan. Tatanan sosial tidak bisa dimunculkan kembali begitu saja melalui interaksi-interaksi desentralistik individu dan komunitas. Akan tetapi harus di rekonstruksi melalui kebijakan publik, ini berarti bahwa tindakan dan inaction di pihak pemerintah adalah wilayah yang jelas dimana pemerintah bisa bertindak untuk menciptakan tatanan sosial melalui kekuatan polisi ataupun militer dan melalui proses peningkatan pendidikan. Kita mungkin lebih suka melihat perubahan-perubahan dramatis dalam berbagai tingkat kejahatan dan kepercayaan ketimbang dalam norma-norma yang berkenaan dengan seks, reproduksi, dan kehidupan keluarga. Senyatanya, proses penormalan kembali dalam dua wilayah pertama sudah berjalan dengan baik.
Yang mungkin bisa kita harapkan di masa depan adalah adanya proses adaptasi dari berbagai kultural yang berbeda yang akan membuat masyarakat era informasi menjadi lebih ramah untuk anak-anak. Persoalan utama berkenaan dengan pandangan yang secara esensial optimistik tentang kemajuan sejarah ini adalah bahwa tatanan sosial dan moral tidak harus mengikuti kebangitan tatanan politik dan perkembangan ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar